Social Icons

twitterfacebookgoogle plusemail

Tuesday, January 10, 2012

Acara milik Organisasi Feminisme Islam?

Acara milik Organisasi Feminisme Islam?
Di bawah terik matahari, saat seluruh warga KBQT (Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah) telah selesai menjalankan agenda “tawashi”, saat itu pula para ibu berdatangan dengan pakaian serba hijau. Bahkan ada yang membuat terkejut, kedua pohon pengucap selamat datang di halaman gedung RC (tempat biasa warga KBQT belajar) tertancapkan dua buah bendera hijau bertuliskan “Muslimat NU”. Apa itu muslimat NU dan apa hubungannya dengan feminisme? Mari kita simak sejarahnya terlebih dahulu.
Sejarah pergerakan wanita NU memiliki akar kesejarahan panjang dengan pergumulan yang amat sengit, Yang akhirnya memunculkan berbagai gerakan wanita baik Muslimat, Fatayat hingga Ikatan pelajar putri NU.
Sejarah mencatat bahwa kongres NU di Menes tahun 1938 itu merupakan forum yang memiliki arti tersendiri bagi proses katalisis terbentuknya organisasi Muslimat NU. Sejak kelahirannya di tahun 1926, NU adalah organisasi yang anggotanya hanyalah kaum laki-laki belaka. Para ulama NU saat itu masih berpendapat bahwa wanita belum masanya aktif di organisasi. Anggapan bahwa ruang gerak wanita cukuplah di rumah saja masih kuat melekat pada umumnya warga NU saat itu. Hal itu terus berlangsung hingga terjadi polarisasi pendapat yang cukup hangat tentang perlu tidaknya wanita ikut berkecimpung dalam organisasi NU.
Dalam kongres itu, untuk pertama kalinya tampil seorang muslimat NU diatas podium, berbicara tentang perlunya wanita NU mendapatkan hak yang sama dengan kaum lelaki dalam menerima didikan agama melalui organisasi NU. Verslag kongres NU XIII mencatat: “Pada hari Rebo ddo: 15 Juni ’38 sekira poekoel 3 habis dhohor telah dilangsoengkan openbare vergadering (dari kongres) bagi kaoem iboe, Tentang tempat kaoem iboe dan kaoem bapak jang memegang pimpinan dan wakil-wakil pemerintah adalah terpisah satoe dengan lainnja dengan batas kain poetih.” Sejak kongres NU di Menes, wanita telah secara resmi diterima menjadi anggota NU meskipun sifat keanggotannya hanya sebagai pendengar dan pengikut saja, tanpa diperbolehkan menduduki kursi kepengurusan. Hal seperti itu terus berlangsung hingga Kongres NU XV di Surabaya tahun 1940.
Dalam kongres tersebut terjadi pembahasan yang cukup sengit tentang usulan Muslimat yang hendak menjadi bagian tersendiri, mempunyai kepengurusan tersendiri dalam tubuh NU. Dahlan termasuk pihak-pihak yang secara gigih memperjuangkan agar usulan tersebut bisa diterima peserta kongres. Begitu tajamnya pro-kontra menyangkut penerimaan usulan tersebut, sehingga kongres sepakat menyerahkan perkara itu kepada PB Syuriah untuk diputuskan.
Sehari sebelum kongres ditutup, kata sepakat menyangkut penerimaan Muslimat belum lagi didapat. Dahlanlah yang berupaya keras membuat semacam pernyataan penerimaan Muslimat untuk ditandatangani Hadlratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari dan KH. A. Wahab Hasbullah. Dengan adanya secarik kertas sebagai tanda persetujuan kedua tokoh besar NU itu, proses penerimaan dapat berjalan dengan lancar.
Bersama A. Aziz Dijar, Dahlan pulalah yang terlibat secara penuh dalam penyusunan peraturan khusus yang menjadi cikal bakal Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Muslimat NU di kemudian hari. Bersamaan dengan hari penutupan kongres NU XVI, organisasi Muslimat NU secara resmi dibentuk, tepatnya tanggal 29 Maret 1946/26 Rabiul Akhir 1365. Tanggal tersebut kemudian ditetapkan sebagai hari lahir Muslimat NU sebagai wadah perjuangan wanita Islam Ahlus Sunnah Wal Jama`ah dalam mengabdi kepada agama, bangsa dan negara.
Sebagai ketuanya dipilih Chadidjah Dahlan asal Pasuruan, isteri Dahlan. Ia merupakan salah seorang wanita di lingkungan NU itu selama dua tahun yakni sampai Oktober 1948. Sebuah rintisan yang sangat berharga dalam memperjuangkan harkat dan martabat kaumnya di lingkungan NU, sehingga keberadaannya diakui dunia internasional, terutama dalam kepeloporannya di bidang gerakan wanita. Dan semenjak itu pula, selain organisasi NU yang beranggotakan laki-laki maka Muslimat dan juga Fatayat terus di bentuk di berbagai wilayah termasuk kota Salatiga.
Program-program yang diadakan adalah tergantung anggota kelompok Muslimat itu sendiri. Kebanyakan para wanita yang di desa memilih bergabung dalam Muslimat NU sebagai pengisi hidup di usia tua, karena selain tidak menganggur mereka berharap apa yang mereka lakukan semakin meningkatkan ketaqwaan dan penyerahan diri terhadap Alloh. Apa yang mereka lakukan menjadi benar-benar hanya untuk meraih Ridlo Alloh, bahkan ada sebuah kecamatan yang sanggup menghidupi yayasan yatim-piatu setiap harinya mulai dari gedung yang telah dibangun (sampai bertingkat), biaya sekolah, makan sehari-hari dan lain-lain. Dan yang paling membuat terkejut adalah semua itu hasil dari iuran sukarela setiap kali diadakan kumpul. Benar-benar patut untuk dijadikan sebuah tauladan bagi pemerintahan dan siapapun.
Kenapa tidak dibentuk organisasi Mulimat khusus desa Kalibening?
Karena di desa Kalibening sendiri sudah berdiri banyak sekali pengajian-pengajian kecil dan di dalamnya terbentuk sebuah struktur organisasi simpan pinjam, orang Kalibening sendiri sering menyebutnya dengan “candak kulak”. Organisasi semacam ini berdiri di setiap RT di Kalibening, dan ada enam kelompok yang telah berdiri. Ide ini dicetuskan oleh bapak Bahruddin dan kawan-kawan desanya dalam rangka untuk memudahkan penduduk Kalibening meningkatkan usahanya yang mandiri. Dalam pengajian itu ada tabungan yang bisa dipinjam orang lain dalam rangka “produktif” atau biasa disebut menciptakan pekerjaan baru, dan lebih sering digunakan masyarakat Kalibening untuk modal usaha, tentunya masalah pinjaman akan ada perjanjian dan waktu lunas. Semua anggotanya adalah wanita, namun ada satu atau dua saja yang laki-laki. Dan ternyata bukan hanya “candak kulak”, di Kalibening ada juga pengajian RT khusus pengajian saja yang acara intinya adalah thausiah.
Bahkan setiap malam jum’atnya juga ada mujahadah yang digelar di Masjid Al-Muttaqien yaitu masjid pusat warga Kalibening, dan sebenarnya dulu pun ada pengajian malam minggu yang juga di adakan di Masjid Al-Muttaqin yaitu pengajian ilmu Fiqh, namun sepertinya sekarang sedang terhentikan. Nah, dengan banyak alasan inilah penyebab tidak perlu didirikan lagi Muslimat NU di Kalibening, cukup beberapa orang saja yang ikut aktif di luar.
Kita kembali ke acara, setelah dapat ditelusuri ternyata Muslimat NU Anak Cabang Kecamatan Tingkir mengadakan acara besar dalam rangka memperingati “Memperingati Tahun Baru 1433 Hijriah dan Santunan Anak Yatim” dan memilih gedung RC sebagai tempat berlangsungnya acara. Kelompok Muslimat ini masih kurang diketahui kapan didirikan, namun saat ditanya Ibu Miskiyah memperkirakan, “Yang pasti sebelum tahun 1995, karena di tahun itu saya baru ikut bergabung dengan kelompok Muslimat”.
PRA ACARA
Acara rutinan setiap tahun yang sudah diadakan enam kali ini terlihat begitu meriah namun sederhana dan mengundang banyak orang diantaranya adalah Pengurus Muslimat Salatiga, Ketua Fatayat (Pemudi NU), Ketua YPM dan WKM, Ketua NU Salatiga, Ketua NU Tingkir, Pengurus Muslimat NU Ranting Kalibening, Ketua Camat Tingkir beserta Ibu PKK, dan seorang perwakilan dari GOW Salatiga. Dan tentunya gedung RC menjadi penuh dengan wajah polos 24 anak yatim-piatu bersama wali dan beberapa orang wakil dari 6 masing-masing kelompok pengajian RT di Kalibening.
Dan dana yang harus dikeluarkan pun bukan berarti sedikit, namun khusus untuk santunan anak yatim-piatu adalah dari Muslimat NU Anak Cabang Kecamatan Tingkir, dan untuk konsumsi, dekor dan segala hal kelangsungan acara adalah hasil iuran dari Pengurus Muslimat NU Ranting Kalibening sendiri yang berjumlahkan enam orang.
Sekitar dua minggu sebelum acara, enam orang Pengurus Muslimat NU Ranting Kalibening yaitu Ibu Miskiyah, Ibu Ningrum, Ibu Ulfa, Ibu Fatimah, Ibu Khatidjah dan Ibu Istianah telah merundingkan konsep acara, konsumsi, undangan, tempat, dan lain sebagainya yang berkaitan dengan acara. Dan sehari sebelum acara dipilihlah sebagian anak KBQT, diantaranya Ghiyast dan Adi Saputra untuk ikut bertanggung jawab dalam kebersihan, tempat, alat-alat yang dibutuhkan termasuk dekor panggung. Bisa dibilang cukup mendadak, hingga akhirnya harus melembur dekor panggung hingga larut malam dengan hiasan sederhana yang ada.
APA SAJA ACARANYA?
Pada tanggal 10 Desember 2011 pukul 13.00 lebih, acara “Memperingati Tahun Baru 1433 Hijriah dan Santunan Anak Yatim” pun dibuka secara resmi. Seperti acara pada umumnya, pembukaan dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, Tahlil, Sholawat Asroqol dengan iringan rebana Assalafiy, dan menyanyikan “Mars Muslimat” yang dipimpin oleh Ibu Ningrum (salah satu Pengurus Muslimat NU Ranting Kaalibening). Kemudian acara kedua dilanjutkan dengan laporan panitia.
Acara ketiga adalah sambutan Pimpinan Muslimat NU Anak Cabang, dan keempatnya Mau’idhoh Khasanah oleh Bapak Muh. Haris yaitu Wakil Wali Kota Salatiga. Beliau menyampaikan tetang pilar-pilar Nabi Muhammad SAW membangun masyarakat di Madinah, termasuk diantara pilar itu adalah sillaturrahmi. Beliau sangat menekankan sillatuurahmi karena ada sangat banyak pendapat baik tentang sillaturrahmi termasuk menjadi awalnya sebuah rasa cinta dalam masyarakat, gotong royong, dan kebersamaan. Bukan hanya itu, namun beliau juga menyampaikan beberapa nasihat untuk masyarakatnya terutama bagi para ibu yang hadir, sebagai pelajaran baik yang hendak beliau tancapkan dalam memori pendengar.
Hingga akhirnya waktu menunjukkan pukul 15.00 lebih, acara inti pun segera dilaksanakan yaitu santunan anak yatim-piyatu. Satu persatu nama 24 anak dari berbagai tempat pun dipanggil, inilah sesi acara yang disebut-sebut sangat mengharukan. Dan do’a tak dilupakan untuk menutup acara ini, karena kita memanglah harus mengawali dan mengakhiri segalanya dengan do’a, yaitu do’a untuk meminta banyak hal termasuk keridlo’an Alloh SWT.
Suara nyaring tabuhan rebana Assalafiy yang menggetarkan hati kembali menggema, mengiringi kepergian semua tamu undangan yang telah hadir. (TZ).

0 comments:

Post a Comment