Social Icons

twitterfacebookgoogle plusemail

Tuesday, January 10, 2012

Saat Terbang", Bershalawat

Saat Terbang, Bershalawat
Oleh: Hana Rukhul Qisthi
Pesantren adalah tempat para santri menimba ilmu agama Islam, yaitu ilmu yang digunakan untuk meningkatkan ketaqwaan pada-Nya dan juga seputar hukum-hukum Islam, bahkan sampai akhlaq pada sesama manusia ikut dibangun di dalam pesantren. Namun di Pesantren bukan hanya kegiatan mengasabsahi kitab atau materi-materi pelajaran saja yang bisa dijumpai, didalamnya juga ada seni, yang berupa tilawah, khithobah, bahkan ada sebuah group alunan musik yang sangat digemari para santri yaitu rebana.
Rebana adalah musik yang liriknya berupa puji-pujian untuk Nabi kita, Muhammad SAW. Yang diiringi dengan alat musik tradisional yang bermana Terbang dalam bahasa jawa. Terbang atau Rebana adalah gendang pipih bundar yang dibuat dari tabung kayu pendek dan agak lebar ujungnya, pada salah satu bagiannya diberi kulit beberapa jenis hewan.
Di Kalibening sendiri, sebagai desa santri yang mayoritas penduduknya adalah muslim ini juga tak kalah ketinggalan. Sebuah pesantren yang berdiri di jantung desa pun memiliki sebuah kelompok rebana yang bernamakan Rebana Assalafiy.
Rebana Assalafiy didirikan pada tahun 1993 tepatnya bulan Ramadhan, yang beranggotakan tujuh orang. Tiga diantaranya sebagai vocal dan empat sebagai pengiring.
Akar kata Salafi adalah Salafa yang artinya dahulu atau kuno. Karena Rebana tersebut tidak ada unsur alat yang diperselisihkan ulama dalam keharamannya (seperti gendang, gitar, seruling, dsb), maka nama Assalafi pun disandangkan.
Pendiri Assyalafiy pertama adalah Fahmi dari Gontorio, santri kilatan atau santri yang hanya mondok di bulan Ramadhan saja. Sepak terjang Rebana kemudian diteruskan kembali oleh Masturin Ahmad.
Pada tahun 1993 bertepatan dengan bulan Ramadhan, berdatanganlah santri-santri kilat yang kemudian dengan serius mendirikan sebuah rebana. Terpilihlah Fahmi sebagai ketua rebana.
Rebana yang begitu kompak dan semangat itu dalam tempo lima belas hari (sejak berdirinya rebana itu) telah bertekad memberanikan diri untuk tampil di acara Nuzulul Qur’an. Akan tetapi, Rebana Assalafy harus berhenti sejenak, seiring berakhirnya bulan Ramadhan. Beruntung sekali ada Masturen, santri mukim (Santri yang tinggal didesa) yang kemudian meneruskan sepak terjang Rebana Assalafy.
Kala itu, mereka tidak menetapkan harga tertentu bagi yang mengundang Rebana Assalafy. Hanya cukup dengan disediakannya jemputan, makan dan rokok saja. Mereka tak mewajibkan adanya pesangon, bahkan menolaknya. Biar begitu mereka tetap bersemangat. Semangat yang semakin membumbung itu, membuat Rebana Assalafy tetap eksis hingga saat ini.
Pada tahun 2004/2005, kepemimpinan Rebana Assalafiy diteruskana oleh Abdul Ghofur. Kemudian pada tahun 2007 hingga sekarang, diteruskan oleh Umar Syafi’i.
Namun seiring berjalannya waktu, Assalafiy ditahun ini terdapat sedikit perbedaan yang kebanyakan orang tidak mengetahuinya, baik secara lagu maupun personil. Kalau dulu terpancang dengan lagu yang aslinya, maka yang sekarang lebih banyak variasinya. Entah itu ditambah atau diubah nada dan alunan rebananya. Namun tentu saja, sholawat yang dibawakan selalu membawa suasana bahagia yang sangat khas di telinga para pendengar.
Sudah menjadi kodrat abadi bahwa kendala adalah satu-satunya jalan yang harus kita lewati, tak luput juga group rebana yang satu ini. Kendala yang mereka alami diantaranya, para personil bertabrakan dengan jadwal pondok, madrasah, sekolah, individu, dan bahkan kuliah. Karena itulah, dewasa ini Assalafiy memilih memperbanyak personil dan lantas membaginya dengan beberapa group. Sehingga jika ada beberapa personil yang tidak bisa ikut, Assalafiy tetap bisa tampil.
Suatu ketika ada sebuah tragedi. Kala itu Rebana Assalafiy diundang ke suatu tempat. Dimana acara itu diadakan dalam rangka mengembalikan nama baik Islam tempat tersebut. Kehadiran Rebana Assalafiy akan memberikan pengaruh yang meriah untuk acara mereka. Hanya saja ketika sudah mendekati hari H, Rebana Assalafiy justru mendapat undangan dari Kyai mereka untuk tampil diacara Aqiqah cucunya. Hal itu membuat mereka kebingungan. Lain sisi, pihak yang satu sudah mengundang jauh-jauh hari. Sedang di sisi lain, mereka tentu rikuh kalau harus menolak permintaan Kyainya sendiri.
Akhirnya disepakati, mereka memutuskan untuk mengambil personil dari tiap kelas. Baik kecil maupun besar. Sampai pada akhirnya personil dikumpulkan dan dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok yang tampil di ndalem pak Kyai adalah remaja dan anak-anak. Sedangkan kelompok yang tampil ditempat yang satunya, adalah santri-santri dewasa.
LATIHAN
Pada tahun 2000-2005, tiap malam senin setelah dirosah, Assalafiy berlatih hingga jam 12.00. Biasanya mereka berlatih di rumah Mbak Tari, warga Kalibening. Di tahun 2005-2009 sudah tak dijadwal. Assalafiy hanya latihan jika hendak tampil saja. Sedangkan untuk saat ini kembali diadakan latihan karena banyak kalangan dari anak dan para remaja, jadwal latihannya adalah hari kamis ditempat pak Tafin, juga salah seorang warga Kalibening.
Tujuan Rebana Assalafiy ketika awal didirikan adalah untuk hiburan santri, “Jadi waktu latihan bahagia, ketika tampil bahagia dan yang mendengarkan pun bahagia,”. Dan terbukti, Assalafiy selalu hadir ditengah-tengah kebahagiaan orang. Saat mantenan, pengajian, upacara pemberangkatan Haji, penyambutan Haji, sampai dengan acara Aqiqah, dan tak luput dari acara pondok sendiri.
Namun, inti dari semua itu adalah untuk Syi’ar serta menanamkan cinta kepada Baginda Nabi lewat shalawat.
Sumber: Achmad Darojad, Umar Syafi’i, Ahmad Saidun, Imam Safrudy.

0 comments:

Post a Comment