Social Icons

twitterfacebookgoogle plusemail

Sunday, January 1, 2012

Tentang Dan Sejarah KBQT


Sejarah dan keberhasilan pendidikan alternative Qaryah Thayyibah. Merupakan tawaran riil yang lebih menjanjikan terhadap gersangnya tanah tandus dunia pendidikan di Indonesia. Kontribusi pemikiran yang 'brillian' yang menguak tentang kilasan upaya kongkret mengentaskan
kebodohan anak bangsa.

(1) pendidikan ini menekankan 'goals setting' pada basis potensi anak dengan menekankan kemerdekaan intelegensia anak.
Sejak awal masuk, setiap anak diberikan kebebasan ruang kreatifitas, serta wadah akses yang sangat optimal,

(2) pemberdayaan dengan prinsip menciptakan pendidikan bermutu.
Ada dua pilar pendidikan utama dari jalur alternatif pendidikan anak didik di Qaryah Thayyibah, yaitu basis orientasi yang independent oleh lembaga maupun anak didik, dan implementasi pengembangan potensi intelegensia anak dengan ketulusan mencerdaskan anak didik yang 'beyond' atas kondisi
ekonomi masyarakat.

Berdiri pada Juli 2003 di Salatiga Semarang , nama lembaga pendidikan alternatif itu kini sudah mulai menggema. Bahkan Naswil Idris, salah seorang pakar Pendidikan Nasional (Diknas) pernah turut mempromosikan model SMP alternatif QT baik dalam lingkup nasional maupun forum internasional dengan mengatakan bahwa "SMP Alternatif QT di Kalibening sejajar dengan kampung Isy Les Moulineuk di Prancis, Kecamatan Mitaka di Tokyo, dan lima komunitas lain yang dipandang sebagai tujuh keajaiban dunia".

Lantas seperti apa gambaran terhadap fenomena lahir dan berkembangnya SLTP QT ini, hingga namanya begitu terkenal? "Pendidikan Alternatif Qoryah Thayyibah" ini dihadirkan di muka umum, yang tidak hanya terbatas sebagai bahan informasi, melainkan sebagai tawaran riil tentang konsep pendidikan alternatif yang lebih menjanjikan ditengah gersangnya tanah tandus dunia pendidikan nasional.

Bpk Bahrudin adalah salah satu lulusan Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Walisongo Semarang Cabang Salatiga. Nama kedua yang tidak mungkin hilang dari sejarah pendirian QT adalah Serikat Paguyuban Petani Qoryah Thayyibah (SPPQT). Ia merupakan gabungan dari kelompok petani dari 13 daerah di sekitar Salatiga dan Semarang .

Dengan menekankan pada pemberdayaan komunitas di lingkungannya, SPPQT mempunyai banyak agenda, diantaranya adalah penguatan daya dukung sumber daya alam, penguatan lembaga perekonomian, dan penguatan pendidikan alternatif untuk rakyat dalam rangka pemberdayaan desa . Kemudian, seiring dengan berjalannya waktu, program demi program telah dilaksanakan, dan akhirnya sepakat untuk menyelenggarakan SLTP terbuka, yang telah diisi dengan semangat perjuangannya.

Sudah menjadi kesepakatan umum, bahwa mendirikan SLTP terbuka bukanlah hal yang mudah seperti membalikkan telapak tangan. Apalagi jika melihat funding-nya yang hanya terdiri dari organisasi-organisasi pedesaan yang nota bene beranggotakan masyarakat petani. Namun meski demikian, mereka ternyata memiliki komitmen yang cukup tinggi. Persoalan kapan dan di mana SLTP alternatif itu akan didirikan, bukanlah hal yang signifikan untuk diperdebatkan. Sebab, bagi mereka, yang terpenting adalah tempat belajar SLTP alternatif harus segera didirikan, meski pada akhirnya lembaga pendidikan tersebut dibangun di Desa Kalibening. Termasuk siapa yang berhak untuk diangkat sebagai figur public-nya, mereka yang terlibat langsung dalam proses pendirian SLTP tersebut sama sekali tidak dipersoalkan, meski inisiator sesungguhnya adalah Bahruddin.

Sekolah berbasis komunitas

Sebagai model pendidikan yang menggambarkan sebuah alternatif, SLTP QT, sudah tentu memiliki kekhususan jika dibandingkan dengan sekolah-sekolah konvensional lainnya. Ciri dari lembaga pendidikan QT ini adalah dengan memakai sistem komunitas. Sistem ini segaja dipilih oleh Bahruddin disamping untuk mensiasati biaya pendidikan sekolah reguler yang tergolong tinggi, juga sebagai bentuk "pemberontakkan" pada sistem pendidikan nasional.

Di mata pengelola SLTP QT, sistem pendidikan nasional yang ada sekarang adalah lebih menekankan aspek birokrasi dan fisik, sehingga mengabaikan esensi pendidikan itu sendiri. Dalam artian, sistem pendidikan masa kini terkadang justru membuat anak terlepas dari keberadaannya. Dalam konteks ini, komitmen pada pemberdayaan komunitas tetap menjadi titik tekan gerakan pendidikan ini.

Dari sinilah, jelas terlihat perbendaan antara pendidikan konvensional pada umumnya dengan pendidikan yang menggunakan basis komunitas. Dalam lembaga-lembaga pendidikan konvensional, anak-anak didik sudah diposisikan sebagai konsumen, sehingga mereka pada akhirnya menjadi generasi-generasi mechanic student. Jadinya, pendidikan bukan lagi berbasis keilmuan dan kebutuhan bakat anak didik.

Kalau sudah demikian, maka pertanyaan yang perlu diajukan disini adalah, pendidikan itu untuk siapa? Bagi kalangan SLTP QT, jawabanya adalah bahwa pendidikan itu bagi siswa yang sedang belajar dan masyarakat sebagai pusat pembelajaran. Untuk itu, dalam pandangan QT sekolah harus dikembalikan pada habitatnya, yaitu sebagai proses pembudayaan.

Sebagai upaya ke arah sana , masyarakat juga harus secara kreatif menemukan model pendidikan yang mampu menyelesaikan problem yang terjadi pada masyarakatnya. Di sinilah kemudian QT menemukan bentuknya sebagai model pendidikan alternatif yang responsif terhadap penyelesaian problem dengan konteks masyarakatnya. Dalam konteks ini, siswa sekolah QT membiarkan siswanya mencari untuk menemukan sendiri apa yang ada dan yang perlu diadakan dalam masyarakatnya, dengan tetap menekankan bagaimana siswa sebagai bagian dari masyarakat memecahkan apa yang telah menjadi problem hidupnya.

Hal lain yang juga telah dipraktikan oleh SLTP QT adalah terkait dengan peran guru. Guru yang dalam terminologi jawa dikenal melalui adigium digugu lan ditiru, oleh QT ditempatkan sebagai fasilitator, dinamisator, dan apresiator atas apa yang dihasilkan anak didik. Guru dalam hal ini disarankan untuk mengikuti selera anak, sebatas selera itu tidak berdampak pada kerusakan diri dan orang lain. Pun, atas segala sesatu yang terkait dengan aktifitas belajar mengajar, semua diatur dan disepakati oleh dan untuk para siswa sendiri secara partisipatif, sehingga guru tidak harus bertindak melewati batas kewenangannya, yaitu selalu memarahi dan apalagi harus menghukum.


0 comments:

Post a Comment