Social Icons

twitterfacebookgoogle plusemail

Saturday, February 25, 2012

Pemimpindan Rakyat saling CINTA..

Pemimpindan Rakyat saling CINTA..

12-12-11

Oleh : Theofani Zahra

Sungguh tragis, kebanyakan pemimpin tak malu lagi karena korupsi, kebanyakan pemimpin tetap bias saja tersenyum meski banyak rakyatnya yang miskin dan menderita, dan kebanyakan pemimpin tak malu lagi karena kerjanya yang selalu tidak berbuah lebih baik dari kemarin. Mungkin hanya satu, karena mereka tidak mau membuka telinga untuk mendengar nasihat para rakyat atau bias saja niat mereka bukan untuk memimpin tapi bekerja, sudah pasti harta rakyat yang ada di tangannya menjadi sebuah cobaan terbesar.

Kegagalan para pemimpin di Indonesia benar-benar tragis, sampai menimbulkan banyak depresi dan frustasi bagi para generasi baru. Para remaja yang mencoba memikirkan pemerintah dan tidak dapat menegatasinya akan menimbulkan banyak hal yang tidak diinginkan, seperti bunuh diri, tingkah lakunya menjadi keras, merasa putus asa dan lain sebagainya.

Ternyata kegagalan pemerintah bukan hanya mempengaruhi rakyat miskin dan pendidikan rakyatnya namun semuanya hingga kesehatan emosi dan pikiran rakyat.

Tidak perlu panjang-panjang kita bicarakan aib para pemimpin, kita harus segera berpikiran positif agar menjadi lebih baik. Kita manfaatkansegala yang ada dan dalam keadaan apapun untuk tetap berkarya dan membangun ide baru agar perubahan segera datang. Dan bahkan saat inilah yang menjadi kesempatan baik kita untuk merubah sesuatu yang belum baik menjadi yang sangat baik, ya ini benar-benar kesempatan. Kita semua harus berlomba-lomba untuk mengeluarkan ide baik demi perubahan hidup kita dan orang lain.

Dan akan saya mulai..

Umumnya, sebuah kebenaran dan kebaikan itu adalah diutamakan oleh masyarakat atau banyak orang. Namun hal ini mulai luntur, kita bias lihat saat pemilu. Penyogokan yang dilakukan oleh calon pemimpin telah menjadi tradisi di masyarakat, padahal pemilihan ini adalah jalan yang akan menentukan kegagalan dan keberhasilan pemimpin. Sudah barang tentu, jika dari awal proses pun sudah salah maka kegagalan di masa depan sudah menanti. Dan tradisi penyogokan ini pun sudah dianggap “lumrah” sampai akhirnya pemimpin yang korupsi juga ikut dianggap lumrah karena uang mereka sudah habis untuk “penyogokan rakyat”. Hal ini menjadi sangat menghawatirkan, karena jika tidak segera dihentikan, semuanya akan terus berlangsung dan kebenaran serta kebaikan akan benar-benar hilang di berbagai tempat, karena orang baik pasti akanmenjadi semakinsedikit.

Disinilah muncul ide, seharusnya penyoogokan ini mulai ditegasi betul, lebih tegas dari sekarang. Saat pemilu diadakan, kita akan gunakan ajang perlombaan bukan dengan uang. Dan perlombaan yang digelar adalah perlombaan menyedot perhatian rakyat serta membangun integritas dan sekalilagi tidak boleh menggunakan uang langsung. Dan perlombaan ini harus diberikan batas waktu, dan biarkan rakyat sendiri yang menjadi penilai calon pemimpinnya. Misal, ada seorang calon pemimpin dia membangun kepercayaan masyarakat nya dengan membangunkan biogas di berbagaitempat, nah selain dia mendapat kepercayaan maka rakyat pun untung dan senang. Kemudian setelah perlombaan itu telah sampai pada batas waktu, maka calon pemimpin harus mengutarakan segala hal yang akan diabentuk setelah dia menjadi pemimpin nanti. Misal ada calon pemimpin yang akan membangun perokonomiannya terlebih dahulu termasuk cara-caranya harus diutarakan, atau ada calon pemimpin yang ingin membangun pendidikannya dan lain sebagainya. Dengan mereka mengutarakan janji secara resmi dan termasuk harus dituliskan, maka semua rakyat harus ikut menjadi saksi dan juga bias menagih janjinya di kemudian hari. Dan biarkan rakyat yang menilai mana janji dan caranya realistis, mana calon pemimpin yang berbohong dan lain sebagainya. Nah, setelah itu pemilihan segera dimulai.

Oh iya, masalah penegesan agar mereka tidak menyogok rakyat dengan uang, sebaiknya saat perlombaan atau bahkan sebelum perlombaan berlangsung, maka semua harta bendanya harus ada yang menahan sehingga segala pengeluarannya bias terlihat dengan jelas.

Lanjuuut…

Setelah proses pemilihan telah usai, maka setiap bulannya harus diadakan evaluasi. Di dalam janji yang telah digelar pasti akan ada target besar yang ingin dibangun oleh pemimpin tersebut, itu artinya setiap awal bulan pemimpin tersebut harus menentukan target-target kecil yang tetap berada di jalur target besar, kemudian setiap akhir bulan hasil evaluas iharus disebarluaskan pada rakyatnya bias lewat majalah kota, di internet, bahkan bias juga di TV lokal. Nah, dengan seperti ini rakyat bias mengontrol pemimpinnya dan termasuk harus disediakan jalan agar suara rakyat bias sampai di telinga pemimpin. Mungkin saja pemimpin sedang kehilangan ide atau semangat untuk meneruskan perjuangannya, maka suara rakyatnya yang sudah tumbuh cinta dihati akan sangat senang dan tulus memberikan dukungan, ide-ide baru, dan bahkan nasihat untuk pemimpinnya. Dan pasti akan ada banyak respon jika rakyat tahu bahwa pemimpinnya berhasil melaksankan target, dantidak akan ada respon yang lebih baik dari sebuah keprecayaan dan kecintaan yang tulus. Dan tetunya akan banyak hal baik yang tumbuh daricinta. Dan selama tidak akan ada penghianat, maka tempat tersebut akan tetap bias damai, tenteram dan saling menjaga antara rakyat satu dengan yang lainnya dan juuga antara rakyat dan pemimipin. Kekeluargaan akan menjadi hal yang sangat istimewa.

Dengan komunikasi antar pemimpin dan rakyat yang lancar, maka yang baik akan tetap didukung dan yang tidak baik akan bias segera ditegur.

Oke deh! Dengan ini, kedamaian akan tercipta, perkembangan tetap ada, saling menyalahkan menjadi saling menasihati, dan tentunya akan ada banyak hal yang dating entah baik maupun buruk lalu bagaimana kita selanjutnya akan menyikapi.

Ide ini perlu diawali oleh calon pemimpin yang tulus dan sangat pintar, bukan seorang calon pemimipin yang berijazah saja. Maka untuk pendaftaran, calon pemimpin jangan dibatasi hanya dengan ijazah, cukup mereka diberitahukan akan ada perlombaan (membangunintegritas), bedah “janji”, dantugas-tugas yang harus diperjuangkan selama memimpin. Maka orang yang tulus, pintar, dan berani berjuang akan siap menerima tantangan itu. Jika tidak ada, pasti ada!

Harus direalisasikan sekarang, sebelum orang baik menjadi musnah.

0 comments:

Post a Comment