Social Icons

twitterfacebookgoogle plusemail

Friday, September 6, 2013

Revolusi Ipad, Sudah Siapkah Kita Menghadapinya?

Sahabat,
Revolusi  Ipad,  komputer mini sebesar buku  yang bisa melakukan  sangat banyak hal,  kini benar-benar sudah hadir di Indonesia. Saat dipasarkan pertama kali di sebuah Mal di Jakarta, dalam berapa jam langsung habis terjual, dan pembeli harus indent.
Bagi dunia percetakan dan perbukuan, senjakala sudah di depan mata. Petinggi –petinggi  sudah mulai menghitung mundur. Mungkin 5 tahun lagi. Tapi, bisa juga lebih cepat.
Contohnya sederhana. Lihatlah Koran cetak Kompas. Hari ini, langganan Koran cetak Kompas dipromosikan habis-habisan  di supermarket dan setiap sudut kota. Mengapa?  Sejak Kompas bisa dibaca secara e-paper,  pelanggan diam-diam mulai pindah ke media ini. Lebih mudah, murah, dan tidak memakan tempat.
GNP Indonesia  tahun 2010 ini sudah sekitar 3800 USD. Lima tahun lagi semoga sudah mencapai 6000-an USD. Harga Ipad saat diluncurkan sekitar Rp 7 jutaan, itu pun langsung habis.  Kita tahu makin hari Ipad bakal makin murah seperti laptop.  Apalagi saat Indonesia menjadi makin sejahtera. Ipan bakal menggantikan sebagian besar  cetak kertas. Sebab,  e-buku atau koran elektronik  bisa dibaca sangat nyaman, interaktif,  dibawa ke manapun,  dalam posisi  apa pun.
Seluruh buku yang  ada di Gramedia, sekarang bisa dibaca secara dengan memiliki sebuah Ipad.  Tak lama lagi, seluruh buku yang pernah kita sepanjang hidup, sudah tersaji di Ipad.
Artinya apa? Bila toko buku dan percetakan tutup, maka puluhan ribu bahkan mungkin jutaan orang akan kehilangan pekerjaan.  Karyawan toko buku, karyawan percetakan, pabrik kertas, buruh Hutan Tanaman Industri,  dan pekerja yang secara tak langsung berhubungan dengan kertas, Koran, dan buku.
Tapi perhitungan saya lebih dari itu. Revolusi Ipad ini bakal lebih dahsyat dari yang kita perkirakan..! Saat  kesejahteraan makin naik, dan Ipad harganya bisa semurah HP,  masihkah kita butuh sekolah kalau e-book membuat belajar lebih menarik dan tetap interaktif?  Masihkah kita perlu kampus untuk kuliah, kalau lewat Ipad mahasiswa bisa kuliah sambil berendam di bath-up,  meremas  tangan pacarnya di meja taman,  ngrajang brambang di dapur, atau ngeroki  bahu suaminya?  Kalau sekolah dan kampus-kampus juga  bakal tutup, berapa juta lagi orang kehilangan pekerjaan?
Dosen dan guru yang tidak bermutu hilang, diganti professional  yang bisa membawakan materi dengan cara memikat dan cerdas.  Kalau kampus tutup, berarti kost-kost an / asrama kukut, warung makan, fotokopi, laundry, dan kota-kota  pendidikan juga  teracam bangkrut.  Orang bisa kuliah di universitas  manapun di seluruh dunia, karena teknologi membuat paparan dosen langsung bisa didengar dalam bahasa kita. Pendaftaran, kuliah, skipsi, ujian, pendadaran semuanya on line dan interaktif, mudah dan murah.
Bayangan saya, dialog seperti ini sudah biasa: “Besok ikut tanya  ya saat aku promosi  doktor.  Ini alamat websitenya.  Tapi kalau kamu pas nggak bisa setel  lagi aja videonya. Kayaknya pertanyaan Profesor  Ben  banyak berkaitan dengan penelitianmu..”
 Yang terjadi adalah bakal ada ledakan jumlah orang pintar di Indonesia.  Sebaliknya,  ilmuan dan cendikiawan palsu yang bersematkan titel palsu yang  sekarang diperjualbelikan  juga ikut kukut.  Orang bisa menilai langsung, apakah dosennya  bermutu atau tidak.
Dalam hal spritualitas, inilah saatnya semesta menyatakan kebenarannya. Nubuat para spriritualis tentang senjakala agama, tampaknya juga bakal berlangsung lebih cepat dari yang kita duga.  Dalam kotbah on-line via Ipad, umat bisa memberi  komentar langsung yang dibaca oleh seluruh umat yang sedang on-line,  “Wah Pak Ustad, masak hari gini masih omong gitu. Coba deh baca situs ini, ini, ini,.. “  Atau misalnya, “ Tema APP menjaga kelestarian hutan, apa berhubungan dengan pertemuan Kardinal nganu dengan Duta Besar Amerika yang teracam minyak kedelainya tak laku karena sawit  Indonesia? Coba deh baca situs ini, ini, ini..”
Dengan Ipad, semua jadi lebih transparan dan interaktif. Kalau Facebook saja  sudah membuat sebuah Dewan Paroki di kaki gunung Merapi  ketar-ketir karena pos sewa tenda Natal yang dananya tak masuk akal dibahas habis oleh Mudika...  Apalagi dengan hadirnya Ipad!  Tak hanya pos sewa tenda paroki, bahkan pos anggaran Vatikan pun bakal dicecar tanpa tendeng aling-aling lagi oleh umat berbagai agama. Langsung dan interaktif!  Akibatnya, pejabat-pejabat gereja / agama harus siap duduk di kursi panas. Situasinya bakal  seperti saat Doktor  Srimulyani, Boediono, atau Marsilam Simanjuntak  dicecar anggota DPR dalam kasus Bank Century.
Lalu agama-agama  Indonesia bakal seperti apa?  Dan Seminari, Pesantren, Madrasah..?  Menurut saya, waktunya tidak lama lagi karena ayam hutan mulai berkokok..
Silakan para sahabat  merenung dan mempersiapan diri..

Salam hangat,
Suryasmoro
(PS:  tulisan ini boleh disebarkan)

0 comments:

Post a Comment