Senjoyo 'Bukan' Tempat Wisata

Laporan Utama dari Mata Air Senjoyo oleh Kelas Rainbow

Senjoyo adalah mata air favorit anak-anak KBQT yang sering jadi tujuan pada saat Hari Kesehatan. Di sana, anak-anak biasa menghabiskan waktu dengan berenang, berendam, atau sekedar jalan-jalan menikmati sejuknya suasana yang segar.

Tapi sudahkah kalian tahu tentang seluk beluk Senjoyo? Apa legenda di balik mata air Senjoyo? Apa sebenarnya fungsi Senjoyo bagi masyarakat dan lingkungan? Berikut ini liputan utama Majalah Elalang edisi I/2019 membahas tentang Senjoyo.

Pada Selasa, 2 April 2019, yang lalu tim redaksi Majalah Elalang dari Kelas Rainbow melakukan observasi ke mata air Senjoyo. Didampingi Bu Dewi, Rainbow melakukan wawancara dengan beberapa orang di lokasi tersebut. Sesampainya di lokasi, pada pukul 10.00, kelas yang terdiri dari 6 orang ini berpencar. Izza, Freddy, Bayu, Chevo, Mada, Bowo, melakukan wawancara dan dokumentasi. Hasil wawancara tertuang di liputan utama ini. Dokumentasinya disajikan dalam bentuk video dokumenter dan ditayangkan saat Gelar Karya Selcouth.

Di dalam kesempatan observasi ini, tim Raibow berhasil mewawancarai dua orang narasumber. Yaitu Pak Mulyo yang merupakan salah satu petugas di Mata Air Senjoyo. Juga mewawancarai Pak Supri, salah satu pedagang yang sudah lama berjualan di sekitar wilayah Mata Air Senjoyo.

Senjoyo merupakan nama mata air yang terletak di Desa Tegalwaton, masih masuk di wilayah Kabupaten Semarang. Dahulu, konon mata air ini kerap digunakan olaeh para raja Kerajaan Pajang, salah satunya adalah Mas Karebet atau lebih dikenal dengan nama Jaka Tingkir.

Jaka Tingkir menduduki tahta sebagai raja Pajang pada tahun 1549-1582 dengan gelar Sultan Hadiwijaya. Di dalam legenda dikisahkan bahwa pernah suatu kali air Senjoyo meluap hingga menyebabkan banjir. Kemudian Joko Tingkir menyumbat luapan air itu dengan potongan rambutnya yang panjang. Lalu sumbatan air itu menjadi penyaring sehingga air Senjoyo menjadi jernih hingga saat ini.

Terlihat  banyak aktivitas masyarakat yang dilakukan di Mata Air Senjoyo. Ada orang-orang yang sedang berenang, mencuci, menikmati jajan, membersihkan sungai, atau sekedar jalan-jalan dan duduk santai.

Air Senjoyo memilik daya tarik bagi pengunjung. Selain airnya yang jernih, ada banyak jenis jajanan yang dijual di sekitar lokasi. Salah satu yang jadi favorit adalah gorengan rolade jembak. Adanya mata air ini memang menjadi kesempatan bagi masyarakat sekitar untuk berjualan, terutama di hari-hari libur yang selalu ramai oleh pengunjung.

Suasana di sekitar Mata Air Senjoyo memang sangat nyaman untuk refreshing. Udaranya yang segar dan bersih serta airnya yang jernih bisa membuat kita berlama-lama  duduk santai mengunjungi tempat ini. Sangat tepat untuk melepas penat.

Namun perlu diketahui bahwa Mata Air Senjoyo ini sebenarnya bukanlah tempat wisata. Senjoyo tidak dijadikan sebagai obyek wisata oleh pemerintah setempat. Tidak ada tarikan karcis untuk memasuki lokasi ini. Hanya ada karcis untuk jasa parkir sebesar Rp2.000,- untuk sepeda motor dan Rp5.000,- untuk mobil.

Tempat ini adalah cagar budaya yang memiliki nilai sejarah. Terutama menjadi sumber mata air yang sangat bermanfaat untuk masyarakat sekitar Semarang dan Salatiga. Air yang berasal dari Senjoyo mengairi banyak lahan pertanian warga di berbagai wilayah. Kondisi sekitar Senjoyo yang masih rindang juga menjadi tempat pelestarian berbagai jenis tumbuhan dan hewan.

Tim observasi Rainbow sempat berbincang dengan Pak Sutrisno, warga setempat yang juga berjualan jajanan di lokasi Mata Air Senjoyo. Berikut ini wawancara Bayu (BR) dengan Pak Sutrisno (PS).

Bayu: Bapak tahu sejarah Senjoyo?

PS: Oh ini peninggalan Jaka Tingkir, aslinya dari Tingkir kemudian ngawula di Demak, lalu kembali ke Tingkir, kemudian meninggal dan dimakamkan di Butuh, Sragen. Dulu di sini banyak patung-patung, sekarang sudah tidak ada. Di sini ada tujuh mata air yang tidak pernah surut.

Bayu: Senjoyo ini jadi tempat wisata sejak kapan?

PS: Belum jadi wisata. Tapi memang pengunjung kebanyakan datang untuk berwisata. Tapi sebenarnya utamanya tempat ini bukan wisata. Tempat ini mata air petilasan Jaka Tingkir.

Bayu: Ada larangan tertentu di Senjoyo ini?

PS: Ya tidak ada larangan yang khusus, hanya tidak boleh mengambil ikan, jangan buang sampah sembarangan apalagi ke sungai, jangan berbuat tidak baik.

Selain Pak Sutrisno, tim observasi Rainbow juga sempat berbincang dengan Pak Mulyo (PM), salah satu prtugas di Mata Air Senjoyo yang saat itu sedang bersih-bersih sungai bersama rekan-rekannya.

Freddy:  Tempat ini jadi obyek wisata sejak kapan, Pak?

PM: Oh ini bukan tempat wisata. Ini petilasan, kalau tempat wisata kan ada retribusinya. Anda kalau masuk kan nggak ditariki karcis ‘kan. Tapi ya tergantung pengunjung, ke sini untuk wisata juga boleh.

Bayu: Ada larangan-larangan atau mitos-mitos tertentu, Pak?

PM: Kalau larangan nggak ada ya. Kalau mitos ya tergantung orang yang datang juga. Banyak kalangan yang datang ke sini untuk melakukan ritual tertentu.

Chevo: Kapan itu, Pak?

PM: Tergantung mereka. Misalnya malam Jumat Kliwon, ada juga malam Selasa Kliwon, mulai jam 11 malam sampai jam 3 pagi.

Bayu: Ada berapa sumber air?

PM: Wah banyak, susah kalau mau hitung. Dan air di sini nggak pernah surut.

Freddy: Ikan-ikan itu dari mana?

PM: Itu dari remaja Karangtaruna yang sekarang dikelola Pokdarwis. Tujuannya agar menarik pengunjung, makanya dibuat aturan-aturan tertulis di plang-plang untuk menanggulangi hal-hal yang tidak diinginkan.

Berdasarkan wawancara dan penelusuran dari berbagai sumber, tim observasi Rainbow menyimpulkan bahwa Mata Air Senjoyo pada dasarnya merupakan cagar budaya, petilasan bersejarah, sekaligus cagar alam yang sangat vbermanfaat bagi lingkungan. Adapun kemudian menjadi tujuan wisata masyarakat merupakan fungsi sampingan, bukan fungsi utama.

Maka kita harus memperlakukan Mata Air Senjoyo  dengan baik sebagai cagar alam dan cagar budaya. Sebab fungsi utamanya bukan untuk menghasilkan keuntungan melalui pariwisata, melainkan untuk menjaga warisan sejarah, kebersihan udara, dan sumber mata air yang dibutuhkan oleh masyarakat.

Meskipun nanti Mata Air Senjoyo resmi menjadi obyek wisata komersil, pemerintah setempat harus tetap  memperhatikan kelestarian sumber mata air, flora dan fauna, serta kebersihan lingkungan sekitar Senjoyo. Tentu saja harus berupaya memberdayakan masyarakat setempat.

Liputan ini dimuat di Majalah Elalang edisi 1 tahun XIV Maret 2019

Post a Comment

Instagram KBQT

Copyright © KOMUNITAS BELAJAR QARYAH THAYYIBAH. Made with by OddThemes