SOSOK pria ini memang jauh dari kesan sebagai "tokoh pendidikan". Ia begitu sederhana dan apa adanya. Sorot matanya tajam. Rambutnya yang hitam panjang dibiarkan tergerai atau sekadar diikat ke belakang. Ia pun memilih mengenakan pakaian seadanya. Kaus oblong, celana buntung, dan sandal jepit butut.

Namun, Bahruddin, begitu pria itu terlahir, kenyataannya adalah "Kepala Sekolah" SLTP Alternatif Qaryah Thayyibah di Desa Kalibening, Salatiga, Jawa Tengah. Salah satu sekolah yang berbasis pada komunitas dengan prinsip pendidikan murah. Karena itu, ia tidak pernah memberi "harga mati" untuk biaya pendidikan di sekolahnya, termasuk uang sekolah. Uang bulanan itu sepenuhnya ia serahkan pada kemampuan tiap orangtua. "Berapa pun mereka sanggup," ujarnya.

Selama berbicara, mata Pak Din-begitu ia biasa dipanggil-tak pernah lepas dari komputer yang di atasnya terletak buku filsafat karangan Lorens Bagus dan How to Change the World versi David Bernstein. Ia sedang merintis sebuah kepustakaan digital. Salah satu upaya untuk menopang sekolah yang berbasis pada mutu tinggi dan biaya rendah tersebut.

Penggemar berat Mozart dan Beethoven ini pun sangat terbuka dan ramah. "Mau kopi, ya," sapanya tiba-tiba dengan logat Jawa sangat kental ketika ditemui di kantornya, awal Maret lalu. Sambil menjerang air, ia memamerkan kompor biogas hasil rekaannya di dapur yang begitu apa adanya.

Tekad membangun pendidikan bermutu dengan biaya rendah diakui berawal dari rasa dendam. "Ini dendam saya yang sudah lama, pendidikan kita ini mandek," ujarnya. Ia tak habis pikir ketika menemukan kenyataan pendidikan di Indonesia telah terjebak pada formalisme dan simbolisme. Satu kondisi yang memungkinkan birokrasi dilaksanakan dengan begitu ketat dan kaku.

Akibatnya, lembaga pendidikan hanyalah untuk lembaga pendidikan itu sendiri. Selain itu, dalam pandangannya, anak didik di Indonesia juga sudah banyak yang tercerabut dari akar budaya mereka yang adiluhung. Dalam arti, mereka telah terasuki budaya modern tanpa mampu memetik kandungan dan pesan baiknya. "Di sisi lain, kita juga banyak yang terjebak pada romantisme budaya yang tidak disertai dengan kekritisannya. Kita justru sering mengapresiasi budaya yang ternyata adalah budaya kemandekan, narimo ing pandum, feodal, dan sebagainya," ujarnya.

WAJAR jika Bahruddin tertarik dan prihatin pada dunia pendidikan. Ia memang lulusan Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo, Semarang. Namun, sektor pendidikan baru belakangan ini menjadi perhatian utama. Ia sebenarnya sangat memerhatikan kehidupan sekelilingnya.

Bahruddin memang terlahir di Desa Kalibening, Kecamatan Tingkir, Salatiga, 9 Februari 1965. Sebuah desa sejuk, tetapi dengan gairah kehidupan keagamaan begitu tinggi. Karena itu, pengajian, yasinan, atau tahlilan menjadi santapan sehari-hari masyarakat setempat.

Di lingkungan itu, ia cukup "disegani". Maklum, ia adalah anak keempat dari lima bersaudara almarhum KH Abdul Halim, pendiri sekaligus pemilik pondok pesantren Hidayatul Mubtadiin di desa tersebut. Dengan latar belakang seperti itu, tak heran jika ia memiliki kehidupan dengan warna religius cukup kental. Karena itu, di kala muda, ia pun bergabung dengan organisasi yang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama (NU). Ketika di Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN), ia terlibat dalam kegiatan Anshor. Di kala mahasiswa, ia bergabung dengan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

Seiring dengan kedewasaan yang ia miliki, ia justru memilih tidak aktif. "Kenapa tidak aktif di NU? Saya menganggap NU lebih sibuk memikirkan organisasi daripada kemaslahatan umum. Dan itulah yang kadang saya menyimpulkan, betapa tingkat kepedulian NU pada rakyat kecil, termasuk petani, tidak pernah betul-betul terimplementasikan," ujarnya. "Sebagaimana yang saya rasakan, NU lebih banyak membebani daripada membantu nasib rakyat (umat)," ujarnya menegaskan.

ALASAN itulah yang akhirnya membuat Bahruddin tetap tinggal di desa dan hidup dengan para petani. Perbedaan latar belakang pendidikan yang ia miliki ditepisnya dengan sering bergaul dan bergumul dengan para petani, membicarakan berbagai isu strategis.

Dan pergumulan itu melahirkan kelompok tani yang mereka namakan Al-Barokah atau berkah dari alam. Persoalan yang ditangani pun berkembang. Ia tak hanya mengatasi soal hama dan irigasi, melainkan mulai memperkenalkan pentingnya pertanian organik sebagai sistem pertanian terpadu.

Lebih dari itu, pergaulannya pun semakin luas. Tak jarang ia terlibat diskusi dengan berbagai kelompok dan tokoh, dari Gunawan Wiladi hingga Moeslim Abdurrahman. Ia pun sedikit demi sedikit menggeser pandangan dan sifat homogen komunitas Kalibening. Perlahan tetapi pasti, ia mulai menanamkan benih pluralisme.

Ia berpendapat, dalam mengembangkan proses pemberdayaan seharusnya orang tidak perlu memilah-milah, kaum Muslim maupun di luar Muslim. Bagi dia, rumus seperti itu bertentangan dengan sikap keagamaannya. "Menurut saya, ajaran Islam turun untuk rahmatan li al-’alamin. Alam ini tidak saja menyangkut manusia, tetapi hewan juga ada di dalamnya," kata Bahruddin.

Ia tersenyum dengan mata berbinar ketika masyarakat desanya telah mampu menerima para siswa SMA Santa Ursula, Jakarta, ketika mengadakan live in dengan sekolahnya. Dan, ia tertawa lebar ketika di suatu pagi, Februari lalu, para muridnya menagih cokelat. Hal itu terjadi setelah anak-anak didik itu mempelajari seluk beluk Santo Valentino dan Valentine’s Day atau Hari Kasih Sayang dari internet.

Bahruddin memang tak pernah ragu dalam bertindak. Sejak kecil, ia dididik untuk gigih dan ulet. "Saya biasa belajar sambil bekerja," ujarnya. Untuk biaya sekolah dan kuliah, tak jarang ia harus membuat getuk yang kemudian dijual di warung-warung. Tak jarang juga ia mengangkut rabuk.

Namun, ayah tiga anak itu justru menjadikan kemiskinan dan ketidakberdayaan secara ekonomi sebagai bekal utama dalam menghadapi kehidupan sekarang. Kini ia pun mengenangnya sebagai pengalaman sangat indah. Mungkin tak akan pernah ada kata "menyerah" dalam kamus hidupnya.

Oleh karena itu, ia pun tak gentar dengan segala bentuk teknologi. "Sejauh bisa buka helep, kan jalan," ujarnya membuka rahasia penguasaan tentang komputer. Kemampuan memahami "helep" atau help itu membuatnya mampu merintis Pustaka Digital setahun terakhir. Dan, ia kini sibuk menjadi narasumber berbagai seminar dari tingkat lokal, regional, maupun internasional.

Itulah Bahruddin, pengelola sekolah yang tak kenal lelah. Andai bangsa ini pun memiliki pengelola pendidikan yang setara mungkin masalahnya takkan seperti ini. Untuk lebih memahaminya, berikut disampaikan petikan wawancara Kompas dengan suami Miskiyah (34), bunga desa yang disuntingnya tahun 1990-an dulu.

APA sebenarnya yang menggugah Anda terjun dan menekuni bidang yang Anda geluti sekarang?

Sebenarnya (kondisi) para petaninya. Saya hidup di desa, tetangga-tetangga saya petani. Artinya, saya merasakan dan melihat langsung bagaimana nasib mereka yang demikian memprihatinkan. Sampai ada kejadian yang cukup fenomenal ketika mereka terpaksa beralih profesi dari pertanian. Ada yang kemudian menjadi buruh di kota, menjadi tukang becak, dan yang juga cukup fenomenal, ibu-ibu terus ke pasar, ada yang jualan sayur, jamu gendong, buah-buahan, ngelilingin beras, macem-macem. Jadi, nasib anak petani sangat memprihatinkan karena sektor pertanian sudah tidak lagi mampu mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Awal-awalnya saya dengan teman mendirikan biro pengembangan pesantren dan masyarakat, itu maunya memang ya... bertaruh pada yang kuat, gitu lo. Karena, biasanya upaya pengembangan masyarakat lebih memakai strategi melalui "tokoh". Nah, di pesantren itu kan banyak "tokoh" kayak gitu, ustadz dan semacamnya.

Tetapi, pada akhirnya saya merasa kecapaian karena "tokoh" itu lebih identik dengan "orang kuat". Saya kecapaian dan kadang-kadang kalau tidak hati-hati, bukan penguatan pada masyarakat yang saya dapat, tetapi malah penguatan pada tokoh itu sendiri. Bagaimana membuat upaya pengembangan masyarakat itu bisa turun ke bawah dan berdampak pada kesejahteraan umat itu... kok malah lama…. sehingga saya kecapaian. Jadi, saya langsung saja. Toh, setiap hari saya bersinggungan dengan petani.

Contoh konkretnya bagaimana?

Waktu itu persoalan yang dihadapi sehari-hari masalah air. Ya, langsung saja kami bersama mereka mengupayakan pemenuhan kebutuhan yang dihadapi oleh para petani itu. Karena, waktu itu…. kok enggak segera terwujud aksi konkret dari para tokoh itu bersama para petaninya… karena itu yang lebih penting bagi saya langsung melakukan aksi riil bersama mereka.

Jadi, maksudnya capek karena melihat orang yang harusnya punya kemampuan dan power tidak melakukan itu… termasuk organisasi keagamaan yang tidak menyentuh hakiki kehidupan kita, kondisi waktu itu sebenarnya bagaimana?

Ya, memang sebelumnya, Kalibening, desa saya itu, memang sangat homogen seperti itu, sampai muncul ledekan-ledekan kalau Kalibening itu "Iran"-nya Salatiga, macem-macem gitu. Karena, ini satu-satunya desa di Salatiga yang 100 persen Muslim. Kondisinya seperti itu. Jadi, dapat dibayangkan ketika mereka yang dalam keseharian sangat Muslim, jarang sekali ada situasi dialogis dengan "orang luar" begitu.

Nah, keresahan itu saya jawab dengan keberanian. Saya bersama temen-temen membentuk Nadika (Nadwah Dirasah Islam dan Kemasyarakatan) yang pada gilirannya mampu menghadirkan temen-temen yang enggak Muslim, termasuk Pak Raymond (Raymond Toruan/The Jakarta Post) dan Pak Wid (J Widodo/Kompas) segala itu. Dan, yang kita didik memang lebih pada kiai-kiai mudanya karena kita lebih bisa nggarap banyak pada kiai-kiai mudanya, termasuk, ya berharap bisa segera terwujud satu gerakan rakyat, yang social movement-nya itu betul-betul segera terwujud, ya langsung saja saya mengorganisasikan para petani.

Hasilnya?

Jadi, ketika saya mendatangkan langsung, yang pertama kali turis-turis dari Jerman, ya awal-awalnya mereka lihat gimana… ya.. mereka sebut orang kafirlah... macem-macem-lah. Tetapi, setelah dicoba, ada dialog dan sebagainya, pada gilirannya lalu terbuka. Artinya, muncul satu pemahaman baru, yaitu kalau orang juga dekat, lalu ngobrol dari hati ke hati, ya menjadi baik.

Dan itu ternyata terjadi juga bagi para turis itu sendiri. Karena ada bayangan bahwa Islam itu tegang dan sebagainya. Tetapi, setelah mereka hidup dengan masyarakat desa selama 15 hari bersama masyarakat desa yang dari awalnya mungkin ditakuti juga, setelah selesai, saya tanya bagaimana Anda melihat masyarakat Muslim di pedesaan di Indonesia, yang mungkin sebelumnya terkesan lain. Jawab mereka, orang Eropa, orang Jerman harus datang sendiri untuk melihat langsung dan merasakan langsung.

Jadi, ternyata ada dampak yang tidak hanya dari sisi masyarakat sini, tetapi juga bagi tamunya sendiri. Ya, saya semakin berani saja, termasuk mengelola live in dengan SMA Santa Ursula, Jakarta itu. Memang juga ada sedikit kecurigaan macem-macem, tetapi pada gilirannya, ketika orang itu sudah hidup bersama, sudah berintegrasi, ada perasaan, ada saling bagi rasa, seperti itu, ya akhirnya cair dengan sendirinya.

Ada modal khusus untuk menghadapi seluruh kecurigaan itu?

Ya, modal saya waktu itu, ya nekat wae. Saya hanya berkeyakinan, kebenaran itu suatu saat pasti yang akan terbukti… piye ki rumusane... pokoke ki becik ketitik ala ketara, ngono kuwi… lo. (Ha-ha-ha) Pasti yang benar dan yang jujur-lah yang akan diterima.

Boleh tahu sejarah perubahan pandangan hidup Anda?

Ya, memang yang lebih banyak ya dari pergaulan, tetapi yang pasti ya dari diri kita. Tetapi yang cukup baru itu ya waktu saya mengikuti PMPT (Pelatihan Metodologi Penelitian Transformatif) yang fasilitatornya Wiladi terus Moeslem Abdurrahman segala itu. Nah, itu yang saya rasakan sebagai hal yang betul-betul baru. Jadi semacam ketemu dengan sesuatu dengan yang baru… yang opo yo... kayak membuka hati... gitu! Waduh…. Yang pasti, yang saya rasakan itu ternyata banyak juga teman yang bergiat pada persoalan-persoalan yang saya sendiri merasakannya selama ini. Jadi, semangatnya jadi tambah begitu lo. Tidak sendiri.



Lalu, mengapa Anda tertarik pada pendidikan? Apakah ini salah satu bentuk perlawanan Anda pada kondisi dan sistem pendidikan sekarang?


Ya... betul. Jadi, bagi saya ini satu bentuk perlawanan terhadap sistem pendidikan. Karena saya sendiri merasakan bagaimana sistem pendidikan yang demikian membelenggu dan tidak membebaskan. Satu-satunya perlawanan yang paling riil, ya dengan membuat sesuatu atau melakukan sesuatu.

Apa hal yang paling memprihatinkan dalam sistem pendidikan Indonesia, menurut Anda?

Birokrasi pendidikan yang terlalu membatasi. Menurut saya, birokrasi itu sampai mengubah esensi pendidikan itu sendiri. Masak pendidikan identik dengan bersepatu, berseragam, datang naik angkot, pakai tas, sampai kaus kakinya harus seragam. Dan, ada guru yang di depan yang menjelaskan.

(Belenggu) itu sangat-sangat saya rasakan. Karena itu, saya ngomong berulang-ulang sama temen-temen bahwa kata membebaskan itu harus dipegang betul-betul. Jadi, guru itu kalau toh lebih tahu, jangan memberi tahu, tetapi memunculkan (jiwa) anak-anak untuk ingin tahu. Kalau toh sudah berhasil menumbuhkan keingintahuan anak, juga jangan cepet-cepet dijawab. Artinya, menjawabnya itu dengan cara mendampingi mereka untuk melakukan pencarian sendiri sehingga tingkat kepahaman itu akan lebih baik. Jadi, prinsip membebaskan itu betul-betul saya pegang.

Kebebasan seperti apa?

Kadang orang memang mengartikan kebebasan itu bebas yang liar. Sebenarnya enggak. Karena, nilai-nilai kedisiplinan, kejujuran, tanggung jawab, dan macem-macem itu tetap ditanamkan bersama-sama. Dan itu berlaku bagi semua. Jadi, maksud saya, ya kebebasan dalam berekspresi untuk menemukan sendiri tanpa harus tergantung pada orang lain. Jadi, kalau toh seorang guru itu mendapatkan "kelebihan", sebenarnya kan hanya lebih dulu saja mendapatkan informasi. Nah, sang guru itu harus menyiapkan diri untuk dieksploitasi oleh si anak yang umumnya dengan pertanyaan sehingga dia seharusnya lebih banyak menjawab, tetapi bukan memberi….

Pengalaman apa yang paling mengesan?

Ha-ha-ha. Saya ditinggal orangtua (Bapak) sejak kelas 1 SMP. Jadi, saya yatim dengan adik perempuan dan dengan Ibu. Sejak itu, saya harus cari uang untuk biaya sekolah, juga untuk Ibu dan adik. Misalnya, saya enggak mampu mbayar kuliah, ya, saya cuti dulu, terus adik saya yang kuliah dulu. La, saya lalu berjualan apa saja, sedapatnya. Saya jualan manisan dari warung ke warung, terus ngambil petis pakai bronjong, lalu dijual dengan sepeda onthel.

Semua itu adalah pengalaman yang sangat indah. Bagi saya itu bekal yang sangat luar biasa, untuk selalu berani karena sudah terbiasa dalam penderitaan. Hidup dari keterbatasan ya bisa dan itu modal bagi saya untuk selalu berani. Bikin apa saja, ya... wis pokoknya berani saja (dalam melakukan apa pun) karena nanti pasti mendapat jalan keluar. Ya, menjadi lebih kreatif. Karena, kreativitas itu muncul karena kepepet. Saya juga sempat jualan petis untuk membayar kuliah..ha-ha-ha.

Jadi kuliahnya dibayar dengan petis? Ijazahnya enggak hitam kan?


Ha-ha-ha... wong ijazahnya tidak saya ambil sampai sekarang. Jadi setelah selesai ujian skripsi itu, wis lulus, ya sudah. Wisuda enggak saya urus, jadi sampai sekarang saya enggak punya ijazah. Karena itu, saya tidak punya gelar karena gelar itu kan dasarnya ijazah. Lha untuk apa wisuda, wong cuma dapat sertifikat. (P BAMBANG WISUDO/RIEN KUNTARI)



Sumber: NAPER  Minggu, 27 MARET 2005 HALAMAN 12