Salatiga.

Iya, Walikota Salatiga yang memilih berangkat-pulang kantor dengan ngonthel itu juga menjadikan rumah dinasnya sebagai tempat berefleksi para mudi-muda kreatif. Salatiga menjadi kota paling segala di dunia.

Di 1.200-an RT se Salatiga telah dinamis progresif dengan 1.200-an Sanggar Kreatif bagi mudi-muda kampung, berkarya di inovasi teknologi, seni dan sastra.

Juga aktif sinergis memberdayakan ekonomi ummat melalui Jamaah (koperasi) Produksi, optimal mengelola sumberdaya yang ada mewujudkan keberdikarian ekonomi rakyat sebagaimana dicita-citakan Soekarno.

Salatiga sebagai area penyangga, Konservasi air juga telah optimal dilakukan. Sumber-sumber mata air besar seperti Senjoyo, Kali Taman, Kali Sombo dll melimpah ruah gemah ripah loh jinawi.

Konservasi energi terbarukan juga telah optimal dilakukan. Intensitas sinar matahari yang maksimal (karena garis katulistiwa) telah dimanfaatkan maksimum lebih-lebih karena Salatiga berada di kisaran 650 DPL, suhu sejuk sangat baik untuk solar cell.

Di samping satu-satunya kota di dunia yang seluruh genting rumah sudah terinstall solar cell, seluruh 60 ribu-an rumah juga sudah diinstall gas digester pengganti septic tank sehingga kontribusi penurunan emisi gas rumah kaca juga sangat signifikan dan terbaik di dunia. 

Eh, kota mungil dengan luasan area yang hanya sekitar 5.000 ha itu ternyata juga memasok 25 % kebutuhan vanili dunia.

Seluruh 25 orang anggota DPRD juga dari kalangan mudi/a pegiat pemberdayaan rakyat yang ketika pencalonan, alih alih "membeli" suara, justeru didukung penuh bahkan "disangoni" rakyat karena mereka memang pejuang mewakili kepentingan rakyat.

Sebuah mimpi di pagi hari, 5 Januari 2024.


Rizal Ramli, Pak Din, HS. Dilon