Oleh: Rasih M. Hilmy*
Jauh sebelum istilah Makan Bergizi Gratis menjadi slogan nasional dan proyek negara, sebuah komunitas kecil di Desa Kalibening, Salatiga sudah lebih dulu mempraktikkannya. Tanpa APBN.
Tahun 2003, ketika sebagian besar anak desa harus naik angkot ke kota untuk sekolah, ada 12 anak yang tidak jadi berangkat. Bukan karena putus sekolah, tapi karena tidak perlu sekolah ke kota. Di situlah KBQT bermula. 12 anak asli Kalibening yang memutuskan untuk melanjutkan belajar di KBQT (Waktu itu SMP Alternatif QT).
Konsekuensinya sederhana tapi menentukan: ongkos angkot yang semestinya dibayar setiap hari menjadi tidak terpakai. Duit itu yang kemudian dialihkan. Bukan untuk seragam baru. Bukan untuk bangun gedung. Tapi untuk Sarapan.
Orang tua bersepakat untuk tetap mengeluarkan biaya sebesar ongkos angkot pulang-pergi. Dana itu dikelola oleh sekolah, lalu dipercayakan kepada satu sosok yang sudah akrab dengan kehidupan dapur desa: Mbah Lam.
Selain memiliki warung matengan di rumahnya, Mbah Lam juga mengelola warung sayur yang menjadi tempat para petani sekitar menitipkan dan menjual hasil panen mereka. Dapurnya sudah berjalan, jejaring bahan bakunya sudah ada, dan relasinya dengan warga terbangun lama. Logikanya sederhana: jika sudah ada yang siap mengelola sarapan, kenapa harus membuat dapur baru.
Di situ tidak ada mekanisme lelang, tidak ada daftar vendor, tidak ada proposal berlembar-lembar. Hubungan yang bekerja adalah kepercayaan dan kedekatan sosial. Hanya ada satu hal: setiap pagi harus ada susu murni. Selebihnya, menu menjadi urusan Mbah Lam. Tak pernah ada ahli gizi yang mengatur protein dan kalori. Menu tidak lahir dari hitungan nutrisi, melainkan dari apa yang dipanen oleh petani pada hari itu.
Apa yang dipetik hari itu, itulah yang masuk ke warung dan lalu dimasak. Tanpa distribusi jarak jauh, tanpa impor bahan, sayur bergerak dalam radius kecil. Dari sawah ke dapur Mbah Lam, berakhir di piring anak-anak KBQT.
Susu-pun begitu, diambil dari Pak Margono, pengepul susu yang mengumpulkan susu hasil dari perahan sapi-sapi warga Kalibening dan sekitarnya. Susu benar-benar segar dan murni. Tidak ada kemasan pabrik , atau plastik berlogo sekali pakai.
Makan dilakukan prasmanan di warung Mbah Lam, ambil sebutuhnya dan harus habis. (Kecuali susu yang dijatah satu anak satu gelas) Anak-anak punya piring dan gelas Pribadi. Setelah makan, cuci sendiri. Di sini pendidikan terjadi. Membedakan butuh dan ingin, belajar tanggung jawab, belajar bahwa makanan bukan sesuatu yang bisa disisakan seenaknya.
MBG 2025
Program MBG yang diproyeksikan secara nasional oleh Prabowo sejak awal dibingkai dengan klaim ideologis yang kuat: sebagai agenda strategis negara, solusi struktural bagi stunting, sekaligus simbol keberpihakan politik pada rakyat kecil. Ia hadir dengan narasi besar tentang transformasi gizi bangsa, dengan legitimasi kebijakan dan duit yang maha besar.
Berhadapan dengan itu, Sarapan KBQT bergerak dalam arah yang jauh lebih sunyi. Ia bukan proyek besar. Ia lahir dari satu orang tua yang mengusulkan, lalu diikuti sebelas lainnya. Tanpa deklarasi, tanpa retorika perubahan sistemik, tanpa klaim revolusioner. Sekadar praksis realokasi sumberdaya, uang tetap keluar dari orang tua, digeser dari transportasi menuju nutrisi.
Hulu-nya berbeda. Yang satu berbasis solidaritas kecil dan kebutuhan konkret; yang lain memakai logika 'politik subsidi' : negara (seolah) hadir sebagai pemberi anugerah. MBG dipoles sebagai hadiah, padahal sekadar redistribusi duit publik yang dihasilkan dari pemotongan besar-besaran dari sektor lain, terutama pendidikan.
Pada saat yang sama, operator dapur dan pengelolanya tidak netral secara sosial: banyak dijalankan oleh jejaring elit dari struktur partai, tentara, polisi, hingga ormas-ormas keagamaan yang punya basis massa.
Jika versi KBQT tumbuh dari ekonomi sirkular kampung dan kepercayaan horizontal antar-warga, maka versi Prabowo bergerak dalam orbit kekuasaan: subsidi sebagai instrumen legitimasi, dan dapur sebagai simpul distribusi anggaran sekaligus konsolidasi jaringan. Yang satu tumbuh dari efisiensi lokal; yang lain dari distribusi kekuasaan anggaran.
Satu pelajaran penting dari eksperimen kecil di Kalibening itu: makan bergizi tidak selalu harus dimulai dari negara. Ia bisa tumbuh dari logika komunal, dari rantai pasok lokal, dari kepercayaan pada warung tetangga.
'MBG' versi KBQT tahun 2003 bukan proyek besar. Ia hanya Sarapan Bersusu. Tapi dari sana terlihat satu hal: ketika komunitas menguasai dari hulu sampai ke hilir, yang tumbuh bukan sekadar kenyang, melainkan rasa memiliki.
*Penulis (foto kiri) adalah angkatan pertama KBQT, kini aktif sebagai petani jamur.


0 Comments